ASET DAERAH

Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kulonprogo terseok-seok mengejar target Pendapatan retribusi Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB). Target yang dicangangkan tahun ini sebesar Rp 14,6 miliar, baru tercapai Rp 7,09 miliar.

“Baru 48,5 persen (tidak sampai separo) dari target. Seharusnya Agustus harus sudah bisa 64 persen,” kata Kepala Bidang Pajak BKAD Kulonprogo Nasip (18/9).

Meskipun sudah ada kebijakan penarikan pajak dengan cara jemput bola di lokasi pertambangan, dampaknya tidak signifikan. Efektivitas pemantauan di lapangan juga tidak menggembirakan. Tren penurunan produksi pertambangan semakin mempersulit pencapaian target. “Besaran pajak MBLB tergantung jumlah produksi pertambangan. Tingkat produksi pertambangan di Kulonprogo turun. Ada 19 perusahaan pertambangan di Kulonprogo tutup sementara. Karena masa izin habis,” kata Nasip.

Faktor lain yang memengaruhi yakni mulai berkurangnya pasokan bahan material tambang ke YIA. Padahal pada awal pembangunan YIA, banyak perusahaan tambang Kulonprogo menyetor material ke YIA. “Sekarang pembangunan bandara mendekati rampung. Petambang mengurangi pasokan material,” kata Nasip.

Hal itu dibuktikan dengan rekapan data pendapatan MBLB mulai Januari-Agustus 2019. Bulan Januari saat pembangunan bandara, banyak tambang berproduksi. Retribusi MBLB Rp 1,2 miliar. Mulai Februari, Maret, dan April 2019 turun rata-rata Rp 900 juta.

Anggota DPRD Kulonprogo Hamam Cahyadi mengatakan potensi pendapatan MBLB jauh lebih besar dibandingkan target yang dicanangkan.

(Sumber berita: Jawa Pos, 19/09/2019, hal: 3)

Selengkapnya: Tautan