PROGRAM PEMERINTAH

Lelang program padat karya di Kabupaten Bantul masih juga gagal. Setidaknya dari Pemkab sudah tiga kali membuka lelang untuk program senilai Rp19,3 miliar tersebut, namun hingga kini selalu gagal.

Ujang Hasanudin

hasanudin@harianjogja.com

  • Pemangku anggaran program padat karya diimbau untuk lebih tegas.
  • Jika lelang tak kunjung berhasil, anggaran bisa jadi Silpa.

Anggota DPRD Bantul Supriyono mengaku khawatir program rutin tahunan tersebut tidak terealisasi sampai akhir tahun karena waktunya mepet. “Pemangku anggaran ini harus tegas. Kalau sampai gagal lagi program padat karya bisa terbengkalai, ” kata dia kepada wartawan di Rumah Makan Andrawina, Bantul, Senin (16/9).

Kini, program tersebut sudah masuk lelang keempat dan prosesnya sudah berjalan. Padahal saat ini sudah pertengahan September, sedangkan pertanggungjawaban kegiatan harus sudah disusun pada pertengahan Desember mendatang.

Hingga sekarang dia tidak tahu pash alasan Bagian Layanan Pengadaan Barang, Setda Bantul, terkait dengan kegagalan lelang tersebut. Diakui dia, program padat karya selalu ada setiap tahun dan barn tahun ini belum terlaksana sampai triwulan ketiga.

Dia menegaskan program padat karya sangat dibutuhkan masyarakat karena pembangunan itu langsung diusulkan oleh masyarakat melalui proposal sejak setahun sebelumnya.

Program tersebut di antaranya untuk perbaikan jalan cor blok, talut, dan pembuatan saluran irigasi. Sejauh ini masyarakat juga sudah mendapat sosialisasi program tersebut dari oiganisasi perangkat daerah terkait maupun Dewan, bahkan masyarakat sudah membentuk kelompok- kelompok panitia pembangunan hingga mencari tenaga pekerjanya. “Kalau sampai tidak terlaksana dampaknya fatal. Anggaran akan menjadi Sisa Lebih Penggunaan Anggaran [Silpa],” kata Supriyono.

Umar Afandi, salah satu warga Dusun Sambeng Ill, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan mengaku mengusulkan pembangunan jalan pada 2018 lalu dan disetujui dengan anggaran sekitar Rp100 juta dan hanya tinggal menunggu pencairan. “Jalan itu sudah 15 tahun lalu dicordan kondisinya sudah rusak sekitar 200 meter sampai sekarang belum diperbaiki,” kata Umar.

193 Paket

Sejak tiga tahun terakhir, kata dia, barn tahun ini sebagian program padat karya belum berjalan hingga bulan ini. Program padat karya tahun ini ada yang bersumber dari APBD Bantul 193 paket dan APBD provinsi 26 paket. “Paket dari APBD provinsi sudah berjalan, sementara dari APBD Bantul masih dalam proses lelang,” ujar Sekretaris Disnakertrans Bantul, Ris Widodo.

Dia mengatakan total anggaran Rpl9,3 miliar itu secara keseluruhan dan dibagi dalam tiga paket lelang. “Untuk pengadaan material bangunan Rpl0,3 miliar, yang lainnya untuk konsumsi dan upah sudah selesai lelang tinggal material bangunannya,” kata Ris Widodo.

Sebelumnya, Kabag Layanan Pengadaan Barang, Setda Bantul, Budi Sarjono, mengatakan proyek padat karya masih proses lelang tahap ketiga. Dia mengatakan proses lelang belum berhasil karena ada nersvaratan teknis vang belum terpenuhi.

(Sumber berita: Harian Jogja, 17/09/2019, hal: 10)

Selengkapnya: Tautan