INFRASTRUKTUR PERTANIAN

Alokasi anggaran untuk pembangunan irigasi di Kulonprogo naik drastic. Jika tahun-tahun sebelumnya berada di kisaran Rp3 miliar sampai Rp5 miliar, pada 2019 menjadi Rp22,967 miliar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo Gusdi Hartono mengatakan anggaran pembangunan irigasi dinaikkan lantaran irigasi sangat penting hajat hidup banyak orang, khususnya para petani. “Dengan adanya irigasi yang memadai, diharapkan petani dapat menanam tepat waktu dan ketersediaan pangan tercukupi,” kata Gusdi, Selasa (20/11).

Gusdi mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, terjadi kerusakan jaringan irigasi baik tersier, dan sekunder di Kulonprogo. Hal ini berdampak pada pola tanam di Kulonprogo yang menerapkan pola tanam padi-padi-palawija. Pembangunan jaringan irigasi ini juga bertujuan mempertahankan pola tanam tersebut.

Gusdi menjelaskan alokasi anggaran untuk irigasi ini juga dimaksudkan mendukung cetak sawah baru guna mengantisipasi alih fungsi lahan di Kecamatan Nanggulan dan Pengasih.

“Pembangunan jaringan irigasi ini diharapkan mempu menjawab persoalan pengairan di Kulonprogo,” ucap Gusdi.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kulonprogo Muhtarom Asrori mengatakan penambahan infratruktur seperti jaringan irigasi memang membutuhkan anggaran cukup besar. Namun mengingat kebutuhan daerah untuk menjaga ketersediaan pangan hal itu tetap harus dilakukan.

Dia mengatakan jika langkah ini tidak diambil dikhawatirkan akan mengganggu program cetak sawah baru, seperti di Dusun Donomerto, Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan.

“Kalau tidak, dikhawatirkan sawah tersebut akan kurang produktif atau malah tidak dapat berfungsi seperti yang diharapkan,” kata dia.

Selengkapnya: Tautan