Aset Miliaran Rupiah Batoer Hill Mangkrak

Gulung Tikar, Warga Trauma dengan Investor

Batoer Hill sempat menjadi destinasi wisata primadona wisatawan di Kabupaten Gunungkidul. Kondisinya kini memprihatinkan. Objek wisata yang dibangun dengan dana miliaran rupiah itu tak lagi beroperasi. Batoer Hill yang lahir dari hasil kerja sama pengembang swasta dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Putat gulung tikar setelah para investor pecah kongsi. Aktivitas wisata Batoer Hill lumpuh sejak empat bulan terakhir ini.

“Bangunan penginapan memang tampak bagus dari luar. Tapi di dalamnya hancur berantakan. Sisa bongkaran dibiarkan saja,” ungkap Sularto, warga setempat yang juga bagian dari pengelola Batoer Hill, kemarin (11/9).

Warga memilih tidak bereaksi dengan kondisi destinasi wisata di Padukuhan Batur, Putat, Patuk. Warga setempat cenderung membiarkannya begitu saja. Menurut Sularto, penduduk setempat tidak mau mengambil risiko karena kepemilikan asset Batoer Hill belum jelas.

Kondisi Batoer Hill saat ini sangat kontras dibanding Sembilan hingga sepuluh bulan lalu. Ketika itu Batoer Hill selalu bertabur gemerlap cahaya lampu setiap malam. Kemudian berlanjut riuh wisatawan menikmati sunrise dan breakfast usai Subuh.

Destinasi wisata ini memang menyasar pengunjung kelas menengah ke atas. Namun, sejak para investornya pecah kongsi, Batoer Hill gulung tikar per 15 Mei lalu. Denyut nadi destinasi rekreasi keluarga itupun berhenti. Meski masih ada bangunan tersisa, persentasinya tak lebih 50 persen. Itu pun bangunan yang ada berdiri di atas tanah kas dea setempat seluas lebih dari setengah hektare.

Restoran dan resort yang digadang-gadang bisa menjadi ujung tombak roda ekonomi warga Putat itupun tak berjalan sesuai konsep awal. Yakni untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan di Gunungkidul. Aset miliaran rupiahpun terbengkalai begitu saja.

Sularto berharap segera ada tindak lanjut dari pemerintah. Agar asset yang ada bisa kembali beroperasi. Sehingga roda ekonomi warga Putat terus berputar. “Mau diapakan semua asset ini. Diserahkan kepada warga, digarap desa, atau ditindaklanjuti oleh investor. Belum ada kejelasan,” ungkapnya.

Sularto mendesak pemerintah segera turun tangan mengatasi masalah tersebut. Sebab, tak sedikit modal swadaya yang telah di keluarga warga Putat. Mencapai ratusan juta. Apalagi banyak warga yang semula menganggur dan bekerja pilih beralih profesi demi kelangsungan Batoer Hill.

Kendati demikian, Sularto mengaku sedikit alargi ketika mnyinggung investor. “Kami tak ingin lagi menjadi jongos di kampong sendiri. Sebagai penduduk lokal, tentu kami ingin di-wongke (dianggap),” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Batoer Hill menyediakan sarana home stay lengkap dengan fasilitas kolam renang di lereng bukit. Dipadu keindahan panorama alam berupa hamparan lahan pertanian.

Pembangunan Batoer Hill awalnya menawarkan konsep pemberdayaan masyarakat. Itu agar kehadiran investor bisa diterima warga setempat. Janji untuk mengangkat potensi lokal menjadi ajang kampanye Pemdes Putat dan investor guna memuluskan pelaksanaan proyek.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Hari Sukmono mengaku belum mendapatkan laporan dari pemerintah kecamatan maupun desa terkait atas perkembangan Batoer Hill. Sepengetahuannya, Batoer Hill dikelola oleh BUMDes Putat. Hari menyatakan siap melakukan pendampingan terhadap kelompok sadar wisata setempat agar tetap bergeliat. Namun, soal pengelolaan Batoer Hill, hari tak bisa bicara banyak. Karena dalam pengembangannya melibatkan banyak pihak. Baik Pemdes Putat, masyarakat, dan investor swasta. “Yang harus dipastikan terlebih dahulu adalah status kepemilikan. (Batoer Hill, Red),” katanya.

Hari berjanji menghubungi camat Patuk  dalam waktu dekat ini. Untuk membicarakan perkembangan terakhir Batoer Hill.

Radar Jogja kemarin mengunjungi Batoer Hill. Dari jalan wonosari –jogjakarta berhenti di Bundaran Sambipitu, Bunder, Patuk. Selanjutnya belok kiri menuju kearah objek wisata Gunung Api Purba, Nglanggeran. Satu kilometer dari Sambipitu belok kanan ke Desa Wisata Kerajinan Bobung. Dari situ banyak petunjuk arah menuju Batoer Hill.

Sekitar 200 meter sebelum sampai lokasi berupa jalan menanjak. Begitu sampai di pintu masuk, pandangan mata dihadapkan pada bangunan rumah sisa pembongkaran oleh investor yang mutung (kecewa). Tampak lantai cor blok mulai rusak dan menyembul di beberapa titik. Turun ke bawah, kolam renang juga tidak terurus. Tampak kotor dengan genangan air berwarna pekat sedalam kurang dari satu meter.

Selengkapnya: Tautan